Google Goggles!

Hai hai,

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas sebuah sofware berbasis mobile baru yang dikeluarkan oleh perusahaan raksasa Goggle, yaitu Google Goggles. Mungkin akan terlihat susah untuk dibaca tetapi memang ini yang ingin dibawa oleh perusahaan yang mendukung kreatifitas dan inovasi tersebut.

Goggle Goggles dibentuk karena suatu kebutuhan dalam era globalisasi ini. Aplikasi ini mempunyai keunggulan dalam melakukan search engine tanpa harus mengetik apa yang ingin dicari, cukup difoto saja. Hal ini tentu memungkinkan si pengguna untuk mengupload gambar ke Google juga sebagai media informasi.

Untuk lebih lengkapnya bisa dicek di http://www.google.com/mobile/goggles/#logo

Business Model

Berikut adalah business model dari Google Goggles

 

Jika ditinjau dengan metode SCAMPER, ada beberapa yang bisa dirubah

  • Substitute the source of information. From google to customer to be customer to google
  • Combine all the information from google & customer
  • Adapt from not be able t give info to be able to give information
  • Modify from the basic search engine (photo) to be video search engine
  • Put search engine to other use like social media
  • Eliminate too many similar ads
  • Provide shocking gift to limited and lucky customers
Advertisements

SCAMPER Way!

SCAMPER adalah salah satu strategi alternatif yang tujuannya bisa memunculkan ide-ide baru. SCAMPER sendiri juga mampu untuk membantu memecahkan ide-ide dalam situasi kritis. Sehingga bisa memunculkan ide yang lebih baik dan terperinci. SCAMPER merupakan singkatan yang terdiri dari Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to other uses, Eliminate, dan Reverse.

 

Pada kesempatan kali ini, saya akan membawa kasus SBM-ITB yang tujuannya untuk meningkatkan inovasi dalam institusi tersebut. Dan tentunya dengan menggunakan strategi scamper.

 

1. Substitute (Pengganti)

Sistem kelas diubah menjadi sistem kelas online yang integrative dan ciamik. Mutu portal website SBM-ITB harus ditingkatkan, jangan dibiarkan standar selalu dan minim informasi sehingga terlihat tidak dikelola dengan serius.

2. Combine (Menyatukan)

Semua bahan ajar-mengajar, jaringan blog yang isinya lengkap dengan berbagai informasi itu terkoneksi denganmedia-media sosial seperti Facebook, Twitter, Tumblr, dll supaya sistem pembelajaran menjadi semakin efisien.

3. Adapt (Beradaptasi)

Menjadwalkan satu atau dua hari dalam sebulan bagi mahasiswa untuk memilih lokasi yang paling enak untuk mereka belajar. Jadi, tidak selamanya di kelas.

4. Modify (Memodifikasi)

Perpustakaan yang dibuat menjadi lebih enak untuk mahasiswa nongkrong berjam-jam disana. Suasana dibuat menjadi lebih interaktif dengan ditambahkan kafetaria, jika perlu ada STARBUCKS atau tempat nongkrong asik lainnya, juga ada toko buku branded seperti Times, dll tetapi dengan “harga mahasiswa”.

5. Put to other uses (Menempatkan pandangan yang berbeda)

Menciptakan pandangan bahwa waktu yang dihabiskan oleh mahasiswa di SBM-ITB yang “fun” dan penuh petualangan ini tidak hanya memberi kesempatan pada mereka untuk memperoleh kualifikasi akademik, namun juga dengan pengalaman berharga dalam dunia nyata, dimana mereka akan memberikan manfaat yang baik ketika mereka menuju dunia pekerjaan.

6. Eliminate (Menghilangkan)

Bagi semua yang terlibat sebagai pengelola program SBM-ITB, hentikan kebiasaan “hanya” pandai bicara tentang kemajuan era digital, dan sebagainya. Akan tetapi, jadilah sekolah bisnis yang berhasil menerjemahkan teori tentang abad digital itu kedalam kenyataan. Utamakan aktivitas pembelajaran online mulai sekarang.

7. Reverse/Rearange (Mengatur ulang/membalikkan urutan)

Ubah kurikulum yang hanya cenderung kea rah akademis, text book based, tetapi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar sekarang. Selain mengupayakan lulusannya menjadi ahli manajemen/bisnis yang memilki daya analisis tajam, ciptakan pula proses belajar yang interaktif dan menyenangkan supaya bisa menghasilkan orang-orang yang bisa menghasilkan ide-ide besar.

Demikian paparan diatas, semoga bisa menjadi inspirasi 😀

Portal Business Model

Image

 

Ide yang terbentuk adalah menggabungkan stasiun tv dan social network.Nama dari ide tersebut adalah Portal. Dengan ditemukannya teknologi baru oleh Sony yang bernama Internet TV, terdapat banyak opportunities baru untuk mengembangkan sebuah bisnis. Portal adalah sebuah web dimana orang-orang dapat mengupload video mereka masing-masing seperti YouTube, namun perbedaan dasarnya adalah web ini dapat diakses dan ditampilkan dengan sebuah TV berkat teknologi internet tv yang dikembangkan oleh Sony. Jadi basically Portal mengembangkan channel dan acara2 TV (layaknya sebuah stasiun televisi) yang content acaranya berisikan user generated. Sampai saat ini, acara2 di dalam sebuah TV masih dikembangkan oleh para profesional. Dengan munculnya channel2 tv yang contentnya disajikan oleh user, kita dapat menemukan pengalaman dan ketertarikan baru dalam menonton sebuah TV.

 

Keunggulan dari ide ini adalah Portal menggunakan strategi crowd sourcing yang saat ini sangatlah populer seperti Twitter dan YouTube. Hal-hal yang berbau user generated menjadi hal yang sangat disukai dan dengan Portal, hal2 tersebut dapat dikembangkan lagi menjadi acara2 TV. Potensi yang terdapat di dalam portal hampir tidak terbatas dan banyak hal2 baru yg dapat disajikan. Dengan sistem crowd sourcing, acara2 tv yang dpt ditampilkan oleh user akan sangat banyak maka channel-channel TV di portal akan di grupkan sesuai temanya seperti musik, makanan, travel, olah raga, komedi, kartun, belajar, dll dan dalam setiap channel akan ada sub-sub channelnya lagi. Perbedaannya dengan YouTube adalah di bidang convenience. Dengan Portal, kita dapat mengakses channel2 tersebut dengan menekan satu tombol saja di remote tv  sambil duduk nyaman di sebuah sofa layaknya mengganti channel2 tv biasa dan tidak perlu susah2 mengetik terlebih dahulu atau duduk di kursi yang harus menatap ke monitor.

 

Core capabilities yang disajikan  Portal hampir tidak terbatas. Portal dapat menyajikan acara2 yg diciptakan oleh user mengenai tutorial bermain musik dan trik-trik rahasia cara bermainnya, panduan memasak oleh user yang tidak diketahui orang lain, acara komedi atau lawak oleh user yang ternyata jokesnya sangat lah orisinil dan baru, berbagai macam informasi baru yang selama ini belum ditayangkan di acara2 tv, dll; intinya value proposition Portal adalah untuk mengumpulkan ide-ide2 dari jutaan kepala dan menyajikannya kedalam bentuk acara2 TV.

 

Customer Segment

 

Salah satu kehebatan dari Portal lagi adalah karena contentnya berasal dari banyak orang, maka segment dari Portal hampir dapat mencakup semua kalangan umur, jabatan, hobi, kegemaran, dll. Namun untuk kalangan ekonominya, Portal memiliki segment customer yang ekonominya menengah keatas. Hal ini disebabkan karna untuk membuka portal diperlukan investasi TV internet dan jaringan internet.

 

Distribution Channel

 

Servis dari Portal akan mencapai target2 diatas melalui berbagai macam ads dan promotion melalui TV,Web2 internet termasuk social network, Majalah, dan Koran.

 

Partners

 

Agar Portal dapat berjalan dengan baik, diperlukan adanya kerja sama dengan pihak-pihak seperti : Sony untuk penerapan teknologi Internet TV, Internet Provider, Cable Operator, Experts untuk memberikan rating acara2.

 

Costs

 

Biaya-biaya yang dibutuhkan untuk membangun portal adalah:

 

Initial Investment Cost : biaya untuk investasi awal seperti gedung, server, pembangunan PT, main frame, peralatan kantor, dll.

Maintenance Cost : biaya yang digunakan untuk perbaikan, penambahan, upgrade hardware secara berskala.

Operation Cost: Biaya untuk daily activites

Marketing Cost: Biaya untuk penetrasi pasar, pembentukan brand image, promosi dan iklan

 

Revenues

Revenue dari Portal akan didapat dari iklan-iklan yang ditampilkan di channel-channel Portal.

 

Conclusion

Portal menjanjikan banyak potensi dengan ide-ide baru, namun untuk mengimplementasikannya dibutuhkan biaya investasi yang cukup besar.